Kumpulan Tips Cara Pengendalian Hama Tikus

Dalam budidaya pertanian baik pada padi, jagung, singkong, kacang tanah, tebu dan lain sebagainya kita selalu mengharapkan hasil yang terbaik. Namun tentunya itu bukannya tidak akan menemui kendala sama sekali, melainkan seringkali petani juga dihadapkan pada tantangan serangan opt yang salah satunya disebabkan oleh tikus, hewan pengerat yang memakan segala makanan (omnivora) yang bisa menimbulkan kerugian cukup besar. Karena keragaman komoditi menyebabkan terciptanya lingkungan yang selalu menguntungkan bagi kehidupan dan perkembangan tikus (Priyambodo, 1995).

Gambar: Hama Tikus
Beberapa jenis tikus dapat kita ketahui seperti Rattus argentiventer, Rattus exultant dan Rattus norvegikus. Pada lahan sawah umumnya yang sering kita temui adalah Rattus argentiventer, yang umumnya berwarna kelabu (gelap) dengan dada berwarna agak keputihan. Panjang keseluruhan bervariasi antara 270-370 mm, dengan panjang ekor sama atau lebih pendek dari panjang badannya. Tikus ini mulai berkembang biak dari umur 1,5 – 5 bulan setelah kawin, dengan masa bunting 21 hari. Pada seekor tikus betina mampu kawin kembali hanya dalam tempo 48 jam (2 hari) setelah melahirkan, serta mampu hamil dan menyusui dalam waktu yang bersamaan dengan kelahiran rata-rata anak tikus sebanyak 10 ekor per kelahiran. Setiap anak tikus yang dilahirkan bisa dipastikan terlahir hidup dan tumbuh menjadi dewasa, karena ini sesuai dengan kondisi dimana ada hubungannya dengan faktor jumlah makanan yang tersedia di lingkungan pada saat itu. Atau sebagai gambarannya dimana jumlah makanan melimpah, maka induk tikus akan melahirkan anak yang banyak begitu juga sebaliknya. Jadi tidak ada anak tikus yang mati kelaparan karena kekurangan makanan, karena itu sudah diukur dengan ketersediaan di lingkungannya (respon adaptasi yang baik). Sehingga kepadatan populasi hama tikus dapat stabil. 

Dari hasil penelitian, memahami dinamika populasi tikus akan sangat membantu untuk mengatasinya. Pada ekosistem sawah irigasi, bahwa tingkat kerapatan populasi tikus sawah (Rattus argentiventer) berfluktuatif sangat tajam dengan tingkat kerapatan populasi lebih tinggi saat periode bera. Pada satu musim tanam terjadi satu kali puncak populasi, jadi dengan sistem padi-padi-bera akan terjadi dua kali puncak populasi. Dan tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan spesies yang dominan hingga 98%, dari pada jenis tikus lain yang diketahui hidup di ekosistem sawah irigasi. Bisa dibayangkan jika satu ekor tikus betina saja dalam satu musim mampu hamil 6-8 kali, maka akan memiliki potensi melahirkan anakan tikus 60-80 ekor per satu musimnya. Sungguh jumlah populasi yang bisa melahap dan merugikan dalam waktu yang tak seberapa lama untuk merusak lahan pertanian kita. Apalagi tikus termasuk hama yang agak sulit dikendalikan, karena dengan memiliki indra penciuman, peraba dan pendengarannya yang tajam, serta kemampuan gerakan saat melakukan kegiatan aktif di malam hari juga dituntun oleh misai dan bulu-bulu yang tumbuh panjang, mereka memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Mereka juga memiliki kemampuan memanjat, berjalan dibidang yang vertikal, merayap pada kabel, melompat hingga ketinggian 30 cm pada bidang horisontal, berenang, dan tidak cedera meski terjatuh dari ketinggian 10 meter.

Lingkungan yang paling disukai tikus untuk tinggal biasanya ditempat yang ketersediaan makanannya cukup dan di daerah-daerah semak sebagai tempat perlindungan, yang memiliki variasi vegetasi karena mereka sangat menyukainya seperti tanggul-tanggul irigasi dan perkampungan. Mereka juga pandai membuat liang sebagai sarangnya, untuk tempat berlindung, melahirkan anaknya dan menimbun makanan. Tikus juga memiliki kecerdasan yang cukup dengan kemampuan melindungi diri dari bahaya yang timbul, saat melahirkan mereka akan menutup lubang pintu dengan tanah galian dan akan keluar bila anak-anaknya sudah mulai besar mampu bergerak sendiri. Dan mereka juga tidak selalu berdiam di liangnya saat ketersediaan makanan sedikit atau di saat terjadi banjir, mereka akan mengembara membuat liang baru sebagai sarangnya. Dan uniknya liang sarang yang ditinggalkannya tidak akan digunakan oleh kelompok tikus lain, kecuali hanya untuk berteduh dan berlindung sementara. 

Kerusakan Akibat Serangan Tikus 

Pada periode bera sebagian besar tikus bermigrasi menuju perkampungan untuk berlindung dan mendapatkan pakan altematif, mereka akan kembali ke sawah saat mulainya kembali masa pertanaman padi. Habitat kampung merupakan tempat perlindungan tikus yang paling utama selama periode bera, dan merupakan sumber investasi hingga musim tanam berikutnya di setiap musim. 

Faktor utama penyebab peningkatan serangan tikus yaitu akibat populasi tikus yang didukung ketersediaannya pakan padi, sehingga terjadi kelahiran tikus yang cepat (tiga kali kelahiran pada stadium padi generatif dan menyebabkan peningkatan kerapatan populasi yang tinggi pada periode bera). Padi pada tingkat stadium generatif merupakan sumber pakan tikus yang berkualitas tinggi kaya akan karbohidrat dan berpengaruh nyata terhadap peningkatan berat badan tikus. Sedangkan untuk kebutuhan proteinnya, tikus juga memangsa hewan lainnya seperti siput, serangga, bangkai ikan dan hewan kecil lainnya. Penurunan populasi tikus terjadi sangat tajam yaitu setelah periode bera bulan kedua, karena hilangnya pakan padi (saat panen), terjadinya gangguan habitat dari proses budidaya padi dan adanya aktivitas pengendalian tikus oleh petani. 

Serangan yang terjadi pada fase vegetatif, seekor tikus dapat merusak tanaman antara 11-176 batang padi per malam. Dan saat tikus betina bunting kemampuan merusak meningkat menjadi 24-246 batang per malam. Besarnya kerugiannya yang timbul ditentukan oleh banyaknya anakan yang gagal menghasilkan malai masak pada waktu panen, ditambah tikus juga melakukan serangan sejak tanaman masih di persemaian. Apalagi peran pemangsa tikus saat ini relatif sangat kecil dalam regulasi populasi tikus di ekosistem sawah irigasi, dikarenakan keberadaan jenis pemangsa tikus yang sudah sangat jarang ditemukan akibat waktu yang lalu terjadi perburuan pada musuh alami tikus oleh manusia. 

Pengendalian Serangan 

Penyebab serangan hama tikus yang kerap terjadi setiap tahunnya di berbagai daerah di Indonesia, dikarenakan pengendalian yang dilakukan petani sering dilakukan sendiri-sendiri. Juga karena kegiatan monitoring yang lemah, sering kali terlambat melakukan pengendalian serta tidak dilakukannya secara berkelanjutan.

Selain itu kurangnya pemahaman dan informasi teknologi pengendalian tikus, turut membuat kurang berkembangnya strategi pengendalian. Dengan mengembangkan konsep pengendalian hama terpadu, yaitu memanfaatkan semua teknik yang kompatibel dalam suatu sistim yang harmonis sehingga bisa terus mempertahankan populasi tikus tetap dibawah batas ambang ekonomi.

Berikut beberapa kumpulan cara pengendalian tikus :
  1. Pentingnya menjaga sanitasi lingkungan seperti membersihkan semak dan rerumputan pada jalur irigasi, jalan sawah, perbatasan kampung, parit dan pematang sawah maupun ladang dan membongkar liang yang dicurigai sebagai sarang tempat berlindungnya tikus. Membuat tikus kurang merasa terlindungi dan tidak bisa berkembang biak dengan leluasa. Termasuk mengurangi ukuran pematang sawah kurang dari 30 cm, agar tidak dijadikan tempat bersarangnya tikus.
  2. Dengan teknik kultur, yakni melakukan tanam dan panen secara serempak meliputi areal yang luas dengan jeda waktu antara panen dengan tanam tidak lebih dari 2 minggu. Hal ini bisa menghindari ketersediaan makanan bagi tikus, namun cara ini juga memiliki kelemahan untuk beberapa daerah tertentu dikarenakan ketersediaan tenaga untuk tanam dan panen seringkali tidak mencukupi.
  3. Bisa juga dengan cara fumigasi atau pengemposan. Cara ini efektif untuk membunuh tikus dewasa dan anaknya didalam sarangnya, agar mati semua, tutup lubang masuk setelah dilakukan pengemposan. Lakukan terus jika masih dijumpai sarang tikus terutama pada fase generatif padi.
  4. Dengan cara fisik seperti gropyokan massal dan pembongkaran sarang yang dilakukan secara serentak oleh seluruh petani, atau dengan membanjiri lubang sarang, dan tikus yang keluar dipukul/dibunuh.
  5. Biologi yaitu dengan cara pemanfaatan musuh alaminya seperti burung hantu, kucing, anjing, ular sanca, dll. Tapi hal ini juga ada kelemahan dengan kemungkinan adanya perburuan kembali terhadap hewan tersebut oleh manusia.
  6. Sistem LTBS (Linear Trap Barrier System), yaitu memanfaatkan ketertarikan tikus terhadap tanaman padi dengan mengarahkan tikus masuk ke areal pertanaman tetapi tidak bisa terus ke petak pertanaman karena di halangi bentangan pagar plastik/terpal setinggi 60 cm. Ditegakkan dengan ajir bambu setiap jarak 1 meter mengelilingi areal sawah, dan setiap 20 meter diberikan bubu perangkap yang di desain khusus bisa menangkap sekaligus banyak tikus terutama saat puncak migrasi. Parit pada sisi luar pagar plastik dijaga untuk tetap tergenangi air, agar tikus tidak bisa menapak dengan sempurna, sehingga menyulitkan dia untuk melubangi pagar plastik tersebut.
  7. Pemasangan pagar kawat yang dialiri listrik, menggunakan genset atau listrik rumah sebagai sumber dayanya. Jangan lupa untuk diberikan lampu penerangan sebagai tanda jika ada kawat yang terendam air atau ada tikus yang tersengat, lampu akan meredup atau berkedip-kedip, sekaligus sebagai pengaman agar manusia tidak melintasi sembarangan. Namun tetap saja cara ini juga kurang aman, karena banyaknya kasus manusia atau malah hewan lain yang turut tersengat listrik hingga tewas. Jadi mesti berhati-hati sekali.
  8. Cara yang terakhir yaitu dengan menggunakan racun/rodentisida sintetik, dilakukan jika populasi tikus sangat tinggi pada saat bera atau awal tanam. Selain lebih praktis dan terlihat langsung hasilnya, tetapi juga memiliki kelemahan seperti terbunuhnya organisme bukan sasaran yakni ikan, hewan peliharaan dan keracunan pada manusia. Disamping itu aplikasi pada fase padi generatif, seringkali umpan beracun ini kurang dapat perhatian tikus dikarenakan melimpahnya bahan makanan.
  9. Dan jangan enggan untuk sering melakukan pengamatan pada lahan sawah, segera buang atau kubur tikus yang ditemukan mati di lahan kita. Karena bangkai tikus juga akan membuat ketertarikan kelompok tikus lain untuk mendekat.
Demikian kumpulan cara pengendalian hama tikus yang tentunya bisa disesuaikan dengan kondisi setempat, yang paling cocok dan tepat penerapannya sesuai dengan kondisi kearifan lokal. Tetap lakukan monitoring segala aktivitas akan keberadaan tikus sejak dini, agar usaha pengendalian dapat berhasil dengan baik. Waspadai juga pergerakan migrasi besar-besaran dari daerah lain, agar tidak kecolongan tanaman kita terlanjur rusak.
 
Tikus yang terbunuh ataupun tertangkap hanya merupakan indikasi berkurangnya populasi, namun populasi tikus yang masih hidup dan lolos bisa saja terus berkembang dengan pesat jika kontrol dan pengendalian tidak dilakukan secara kontinyu. Malah biasanya serangan berikutnya lebih besar dan sangat merusak. Sekiranya segala daya upaya sudah dilakukan tetapi belum terlihat maksimal, penting bagi kita semua untuk kembali memohon do’a dan bantuan kepada Tuhan YME. Perbanyaklah ladang amal kita, karena bisa sebagai penolong dan melancarkan rezeki kita kelak. Sejatinya semua yang ada di muka bumi ini atas ketentuan dan kehendakNYA.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kumpulan Tips Cara Pengendalian Hama Tikus"

Posting Komentar

Terimakasih kunjungannya, saling berbagi tak pernah rugi.